Penglihatan Lebih ( Part 48 ) Permintaan Maaf | Cerita Campur
Breaking News
Loading...

Penglihatan Lebih ( Part 48 ) Permintaan Maaf

Cerita Campur - Permintaan Maaf

“TUNGGU SEBENTAR, JANGAN DI SERANG DULU”kata hantu di belakangnya
“maaf anda siapa” kata mbah yin
“saya keluarga yang dia bunuh” kata laki-laki di belakang ini
“MAU APA KALIAN SEMUA KESINI, KALIAN SUDAH SAYA BUNUH” kata dia
“iya kami tau kalau kami sudah mati, tapi tolong hentikan ini semua” kata pria itu
“tahan dulu mbah” kata gue mendekat ke mbah bram dan mbah yin di ikuti oleh dimas dan tiara
“SAYA MAU JIWA ANAK INI SAYA MAU HIDUP KEMBALI” kata setan ini
“hentikan, kami tau kami salah telah memperlakukan kamu seperti itu” kata pria itu

Sejenak seisi ruangan ini menjadi diam, yang tadinya ada api pada badan mbah bram, mbah yin dan nyai gun menjadi padam. Sedangkan setan ini tiba-tiba menjadi cantik dan menangis kembali setelah melihat keluarganya ada 6 orang itu.

“KALIAN TAU BETAPA SEDIHNYA SAYA WAKTU ITU?” kata setan ini menangis
“kita baru sadar dan kami meminta maaf apa yang telah kami perbuat kepadamu” kata dia
“oke sorry ikut campur kenapa dia (menunjuk setan perempuan ini) tidak di perbolehkan keluar dan di perlakukan secara tidak wajar?” kata gue
“kami tau kami salah telah memperlakukan dia seperti itu dan kita minta maaf” kata pria itu
“SUDAH TELAT” kata perempuan ini
“weissssss kalem santai, biar keluarga lu ngomong dulu kenapa sih” kata dimas
“MEREKA BUKAN KELUARGA SAYA, JIKA SAYA ADALAH KELUARGANYA, SEHARUSNYA MEREKA MEMPERLAKUKAN SAYA SEPERTI KELUARGA BUKAN SEPERTI BUDAK” kata dia menangis kali ini darah yang keluar
“coba jelasin pak, kenapa di perlakukan seperti itu?” kata gue
“saya dulu strees maka untuk pelampiasan ke dia ini, saya tau itu salah, saya melarangnya keluar karena saya gamau dia bertemu orang lain karena luka yang ada di badannya, saya takut karena saya telah menyiksa anak saya sendiri” kata pria ini
“apakah di perlakukan dengan cara itu akan menyelesaikan masalah di kepala bapak?” kata gue
“Saya tau itu salah dan tidak mengurangi sedikitpun, makanya saya minta maaf” kata pria itu

Semuanya hening. Gue dan dimas mentap setan ini yang menangis. Sedangkan nanda masih di luar kesadarannya, berdiri dan matanya dalam keadaan tatapan kosong.

“bisa lepasin pacar gue ga?” kata dimas
“tapi.....” kata perempuan ini menangis
“oke gini deh, kita ga akan membakar kamu, kami akan membiarkan kamu hidup disini, tapi sebagai gantinya tolong lepasin temen gue, kasian dia, tolong lepasin ya, dan tolong maafin keluargamu disana” kata gue menunjuk keluarganya yang menangis
“baiklah saya akan melepaskannya, saya minta perjanjian satu lagi” kata dia
“apa itu?” kata gue
“teman-teman mu jangan membunuh saya disini setelah saya melepasnya, dan tolong doakan saya karena dosa saya yang telah saya buat, saya tidak bisa balik alam sana karena saya bunuh diri disini juga, karena itu kenapa kamar ini saya kunci dan saya bunuh diri setelah membunuh keluarga saya” kata dia
“tenang temen-temen kita ga akan bunuh kamu kok, dan kami akan mendoakan kamu dan keluargamu, tolong maafin mereka ya” kata gue menunjuk keluarganya lagi
“baiklah” kata dia

Dia langsung mengucapkan beberapa mantra atau doa gue ga ngerti lah, setelah itu nanda menutup matanya dan jatuh ke lantai.

“akhirnya pacar gue balik lagi” kata dimas menarik nanda ke arah tiara di belakang sana.
“maafkan kami” kata keluarga di depannya
“tidak saya yang meminta maaf karena telah membunuh kalian semua dengan cara yang kejam” kata perempuan ini menangis
“kami yang salah, dan kami yang meminta maaf karena kami telah memperlakukan kamu seperti itu” kata pria itu
“oke urusan gue disini sudah beres bisa kita tinggal dulu? Kita mau nunggu di ruang tamu aja deh” kata gue
“.,...” perempuan ini mengangguk dalam tangisannya
“oke, ayo mbah dan nyai” kata gue mengajak mereka

Mbah bram, mbah yin, nyai gun dan pasukan mbah bram mengikuti gue ke ruang tamu, di ruang tamu nanda berada di pangkuan tiara yang masih belum sadarkan diri masih pingsan. Mbah bram, mbah yin dan nyai gun berada di sekeliling kita sedangkan pasukan agak jauh dari kita semua dan duduk berbaris menunggu kita semua.

“aaaaa gue dimana pusing pala gue” kata nanda
“nanda akhirnya sadar juga ya ampunnnnn” kata tiara memeluk nanda
“gue kenapa sih? Pala gue pusing badan gue sakit” kata nanda
“lo kesurupan” kata dimas
“kesurupan?” kata nanda
“terakhir kali lu bisa liat lu ada dimana?” kata gue
“gue masih sama kalian kok, ngobrol sama setan cewe itu” kata nanda
“terus?” kata gue
“iya ga lama gitu pandangan gue gelap terus gue ngerasain badan gue kaya di iket sesuatu dan gue ga bisa gerak, teriakpun ga bisa” kata nanda
“pas kita teriak nama lu, nah lu denger ga” kata gue
“denger sih tapi suaranya kecil, gue pengen nyoba teriak tapi ga bisa, gue kenapa sih sebenernya?” ata nanda
“....” gue diem doang
“udah lo gapapa yang udah aman deh pokoknya , makasih tuh sama wildan” kata dimas
“makasih wil” kata nanda
“dah kalem aja lu tenangin diri lu” kata gue
“ini kenapa banyak macan begini ya?” aduhhhh pala gue” kata nanda
“udah ga usah dipikirin, mereka bantu kita kok” kata gue

Gue sama dimas coba nenangin nanda yang keadaannya masih belum pulih. Sesaat setelah beberapa lama nanda pulih sedikit akibat kelamaan tidak sadarkan diri, setan cewe ini dan keluarganya datang ke arah kami, tiba-tiba pasukan macan yang tadi jaga jarak tiba-tiba mendekat ke kami seperti mau menyerang,

“sabar-sabar jangan main serang” kata gue
“sabar ikutin perintah dek wildan” kata mbah bram
“BAIKKK” kata sekumpulan macan ini 
“maaf ya mereka sensitif ada apa mbak?” kata gue
“tidak apa-apa saya mengerti karena sayalah yang mencoba membunuh kalian” kata setan ini senyum, wajahnya jadi cantik
“ini siapa wil? Cantik bener” kata nanda
“ini setan yang tadi nan, dan dia yang hampir bunuh lu” kata gue
“HAH BUNUH GUE?” kata nanda
“iya saya yang hampir membunuh kamu, maafkan saya” kata setan ini menangis lagi
“maafin nan, beban dia udah berat” kata gue
“iya iya gue maafin, dah ya ga usah di bahas” kata nanda
“terimakasih, jujur hati kalian sangat baik dan mulia, saya tau kalian semua anak-anak baik” kata setan ini
“gimana dengan keluarga lu?” kata gue
“kami sudah baik disini, dan saya akan tetap disini dan keluarga saya akan pulang ke rumahnya” kata setan ini sedih
“keluarga lu emang pulang, tapi mereka bakal tetep ada di hati lu kok” kata gue
“yang dia katakan benar nak, kami akan selalu ada di hatimu” kata pria itu
“iya, maafkan saya” kata cewe ini
“kami sudah memaafkan dan juga kami meminta maaf atas apa yang terjadi”kata pria itu
“iya sudah saya maafkan juga” kata cewe ini
“oke urusan kita udah beres ya” kata gue
“iya, boleh saya meminta sesuatu?” kata dia
“apa itu?” kata gue
“kalian boleh dateng kesini lagi dan jadi temen saya, apakah saya boleh meminta itu?” kata setan ini




Gue, dimas, nanda dan tiara saling menatap dan mereka ber 3 memberikan anggukan yang mengartikan iya gue liat temen-temen jin gue dan mereka mengangguk juga.

“oke kita bakal kesini lagi nanti dan menjadi teman kita, nanti kita doain ya” kata gue
“baiklah terimakasih sebelumnya, saya pergi dulu” kata cewe ini
“oke, jangan ganggu orang lain ya, kalau mereka dateng beri peringatan sedikit saja seperti menggeser barang atau melempar, buat mereka ketakutan aja pasti mereka pergi kok, jangan sampai di buat kesakitan seperti ini ya” kata gue nunjuk nanda
“baik saya akan berjanji itu juga kepada kalian” kata setan ini
“oke kita pamit juga ya” kata gue
“baik” setan ini senyum dan menghilang
“oke kita keluar, diim gendong nanda” kata gue
“pastilah cewe gue ya gue gendong kali lo yang gendong nyet” kata dimas
“terserah lo” kata gue

Kita semua keluar dari rumah ini, agak jauhan dari rumah ini kita dudukan nanda yang masih pusing, kita mendoakan mereka yang telah bersemayam di tempat itu seperti janji kita semua, setelah mendoakan gue suruh mbah bram dan mbah yin agar tidak membubarkan pasukannya dulu.
“mbah bram, mbah yin, bisa pasukannya ikut saya ke belah sana sebentar?” kata gue
“untuk apa dek?” kata mbah yin
“saya mau ngomong” kata gue
“baik dek” kata mbah yin
“lo semua mau ikut ga?” kata gue ke dimas, nanda dan tiara
“ikutlah” kata dimas
“yaudah yo diri kesana bentar, lebih luas disana kita bisa duduk nyaman” kata gue

Kita semua duduk di tempat yang cukup luas itu dan pasukan macan itu mengikuti di belakangnya mbah bram dan mbah yin.

“mbah-mbah yang saya sayangi, saya mau tanya, kalian ini sebenarnya siapa” kata gue
“....”


Next: Siapa Mbah Bram dan Mbah Yin?

google+

linkedin

About Author
  • Berawal Dari Coba coba, Hingga menjadi hobi yang menyenangkan. Dan kini tetep akan berkarya mulai dari sekarang, kini dan nanti hingga keadaan yang mengakhiri. Read More

    0 komentar:

    POST A COMMENT

     

    Google+ Followers