Penglihatan Lebih ( Part 34 ) Pingsan | Cerita Campur
Breaking News
Loading...

Penglihatan Lebih ( Part 34 ) Pingsan

Cerita Campur - Pingsan

Setelah perang melawan sahabat sekaligus partner sendiri membuat badan gua kehabisan tenaga akibat di hajar oleh dimas yang di dalem badannya ada isinya. Gua sengaja ga ngelawan karena gua takut temen gua sendiri kenapa-kenapa, karena pada saat itu yang tersisa adalah Mbah Yin, kalau gua pakai mbah Yin kemungkinan dimas mati sangatlah besar karena mbah yin sendiri adalah raja dari macan di keluarga gua.

Entah sudah berapa lama mata gua terpejam dan ada sesosok 2 kakek-kakek menghampiri gua.

“keturunanku begitu tangguh” kata kakek 1
“iya dia begitu tanggung lebih dari anakku” kata kakek 2 
“maaf kek, buyut, eyang siapalah, kakaek ini siapa ya?” kata gua
“kami adalah buyutmu nak, dan kamu adalah penerus kami” kata kakek 1
“itu betul maka dari itu kamu wariskan kamu salah satu macan terkuat yang ada di keluarga saya” kata kakek 2
“dan suatu saat kamu akan menerima “TEMAN” mu yang lain dari saya jika engkau sudah siap” kata kakek 1
“bentar kek, eh eyang, “TEMAN” baru?” kata gua
“kamu boleh panggil kami kakek jika mau, iya kamu akan mendapatkan “teman” baru suatu saat, kamu dapat menjaga teman mu ini seperti menjaga keluarga, eyang bangga sama kamu” kata kakek 1
“Mbah Bram adalah turunan dari eyang dulu, dia adalah salah satu penjaga terkuat yang ada di kerajaan kakek dulu, sengaja eyang kasih ke kamu lewat uwa kamu karena eyang percaya kamu bisa jaga dia bagaimana semestinya, karena dia akan punya banyak ilmu yang belum kamu ketahui nak” kata kakek 2
“bentar bentar, Mbah Bram? Penjaga kerajaan? Terus teman baru? Kapan?” kata gua bingung
“suatu hari nanti saat kamu sudah siap dan teman mu ini tingkatannya bisa di bilang sama dengan mbah nantinya” kata kakek 1
“emmm bentar mama papa tau kakek berdua ini kan?” kata gua
“mereka semua tau nak siapa eyang karena kami pernah hadir di mimpinya juga seperti kamu saat ini” kata kakek 2
“ini mimpi? Bukan mati?” kata gua
“kamu itu lucu cucukku, belum saatnya kamu berpulang, pergilah dari sini” kata kakek 1

Setelah itu ane mendengar tangisan dan terikan dari orang yang ane kenal, seorang cewe, oke pasti tiara kalo nyokap gua ga mungkin, cowo berarti dimas, dimas nangis? Gila juga.

“willl woeee will bangun jir kampret WOEEEE” kata dimas 
“yang yang bangun yang” kata tiara
“gue dimana ini” kata gua
“akhirnya masih idup juga si kampret” kata dimas
“emang gua kenapa” kata gua
“gua takut lu mati setan anak anjing” kata dimas
“haha, gua ga bakal mati” kata gua
“hampir kalo tadi mbah lu ga narik nyai gun, gua takut lu mati setan” kata dimas
“sayang banget lu sama gua?” kata gua nyengir ngerasain sakit di dada
“tai malah gitu dah lu istirahat gua ambilin minum” kata dimas berlari entah kemana
“yang, aku takut kamu matiiiiii” tiara nangis
“ga bakal aku mati cuman sakit doang” kata gua
“ga boleh kamu berantem lagi” kata tiara
“sama yang lain boleh kan? Hehe” kata gua
“GAKKKKK AKU PUKUL KAMU” kata tiara mukul dada gua
“ahhhh sakit raaa, mah mana mbah bram?” kata gue ke nyokap
“di badan kamulah di mana lagi” kata mama duduk santai 

-_- Peduli ga sih sama anaknya.

“di badan wildan mah?” kata gua
“iya pas kamu pingsan tadi mbah bram lari ke kamu masuk ke badan kamu, panggil aja” kata nyokap 

Gua liat ada uwa, yang sedang ngobrol sama mbah yin dan entah kemana bokapnya dimas, gue ada di ruang tamu tiduran. 




“bah bram” kata gua
“iya dek wildan” kata mbah bram dalem hati
“ngapain mbah bram di dalem saya” kata gua
“saya gamau dek wildan kenapa-kenapa dek, makanya saya masuk ke badan dek wildan untuk memberikan energi kembali” kata mbah bram
“makasih mbah tapi saya sudah tidak kenapa-kenapa mbah, mbah bisa keluar kalo mau” kata gua
“tidak dek saya akan di badan dek wildan sampai pulih sepenuhnya” kata mbah bram
“udah mbah gapapa saya baik-baik aja mbah” kata gua
“maaf dek, saya tidak mau keluar” kata mbah bram
“yaudah terserah mbah bram deh ya, makasih ya mbah” kata gua
“sama-sama dek itu tugas saya dan saya berterima kasih atas kepercayaan dek wildan kepada saya dan saya mau sama dek wildan sampai kapanpun” kata mbah bram
“hehe, tapi suatu saat mbah harus di wariskan ke anak saya kan mbah” kata gua
“saya bisa menolak untuk itu dek, karena saya sebetulnya di titipkan oleh pemilik saya sebelumnya ke dek wildan” kata mbah bram
“eyang saya mbah?” kata gua
“iya dek, bisa dek wildan tanyakan ke uwa dek wildan” kata mbah bram

Ane langsung kepikiran sama mimpi yang tadi, setelah semuanya kumpul di ruang tamu, tapi tiara ngurus badan gua mulai dari luka di muka dll, sedangkan dimas di obatin sama nanda. Karena semuanya sudah ada di sini, ane ceritakan mimpi ane tadi ke uwa ane karena ane penasaran.

“iya itu eyang kamu” kata uwa ane senyum
“kok eyang masuk ke mimpi aku wa?” kata gua
“mau ngasih THR kali wil” kata nyokap
“ih si mama malah becanda ciyus nih (pake bahasa jaman sekarang)” kata gue
“hahaha, iya itu dia pasti ngasih tau sesuatu kan?” kata uwa gue
“iya wa” kata gua
“ngasih tau apa?” kata uwa ane penasaran
“ya tentang kerajaan gitu deh 2 kakek ini sama-sama dari kerajaan” kata gue dan ga bilang hal lainnya seperti mbah bram adalah penjaga kerajaan.
“iya bener eyang kamu itu salah satu anak raja dulu” kata uwa gue
“maaf saya memotong, kalau boleh tahu eyangnya wildan ini dari mana ya” kata bokapnya dimas
iya jadi gini pak, wildan ini papanya itu turunan dari kerajaan langsung, jadi dulu di daerah bapaknya ada seorang raja kuat memiliki 3 anak, lalu anak kedua ini memiliki 7 anak, nah dari 7 anak ini di jadikan nama kerajaan lagi, masing-masing membuat kerajaan tersendiri, dan anak ke-2 dari 7 itu setelah beberapa generasi itu maka lahirlah eyangnya wildan ini, dan sampai sekarang, jadi wildan ini masih darah keluargaan disana, makanya kalau ke daerah disana wildan pasti di ijinkan untuk masuk ke tanah kerajaan disana pak” kata uwa gua
“owhhh saya mengerti jadi wildan ini masih turunan kerajaan dari bapaknya ya? Kalau keluarga ibu sendiri?” kata bokapnya wildan 
“untuk yang itu saya masih belum bisa cerita pak, soalnya rada ribet pak untuk jelasinnya, kalau dari bapaknya wildan ini gampang banget pak soalnya hanya turunan 1 kerajaan kalau dari keluarga saya ribet pak” kata uwa gua
“oke bu saya mengerti, tapi saya akuin dek wildan ini kuat, dan sepertinya dimas harus belajar banyak dari wildan” kata bokapnya
“tapi saya salut pak dengan dimas ini, bisa jadi partner wildan dengan mudahnya, padahal jujur kita beda aliran pak” kata uwa gua
“nah itu juga yang saya liat dari awal bu pas pertama kali ke rumah saya, saya lihat mereka berdua ini bisa menjadi partner yang pas dan saling mengisi” kata bokapnya
“iya pah, hehehhe. Saya sih setuju saja pak gimana wildannya” kata uwa gue
“gimana nak wildan tuh, nak woee” kata nyokap gue
“kalem napa mah masih sakit ini bisanya ngomong pelan, gimana lu nyet?” kata gua ke dimas
“kok gua anjing? Kan yang di tanya elo setan” kata dimas
“nah mereka udah cocok pak kalo begitu, berantem menandakan kecocokan” kata nyokap gua
“bener juga sih, yasudah pak sepertinya sudah langkah tepat” kata uwa gue
“baik bu, dimas kamu sama wildan ya kalian cocok” kata bokapnya
“ga di nikahin kan pah? Amit-amit deh” kata dimas
“emang gue mau sama lu nyet nikah? Tai , mending gue sama tiara iya ga yank?” kata gue
“tau ah, kamunya berantem mulu” kata tiara
“yaelah ngambek” kata gue

Setelah itu kita semua ngobrol biasa, sambil luka gue di obatin sama tiara ya, muka gue rasanya kaya gemuk tau ga. Tebel dimana-mana, bibir, pipi, idung kepala pusing, masih ada darah di bibir, kaki luka punggung juga pegelnya ga ke tolong segini ada mbah bram di dalam badan gue dan gimana kalo ga ada dia. Dan yang gua ketahui bahwa aura api merahnya mbah bram tadi sifatnya adalah sementara untuk tadi saja melawan Mbah Mun, setelah itu kembali hanya api birunya saja. 

Setelah info apapun yang gue dapat, dimas memohon ke nyokap gue buat ngerawat gua akibat perbuatannya sampai gua sembuh, begitupun dengan nanda dan tiara mereka menginap di rumah dimas buat ngerawat gua dan dimas yang terluka parah di semua badan, Mbah bram hingga malam besok siang masih ada di badan gua gamau keluar.

Mbah gun gimana? Mbah Mun dan Mbah Gun sedang masa pemulihan oleh papanya dimas, ane masih terluka dan masih sesak di dada akibat luka peprangan sebelumnya oleh dimas. Besoknya kami semua membuat janji yang ga akan di langgar, yaitu JANJI SAHABAT

“wil maafin gua kemarin terlalu emosi sama lu sampai lu kaya gini” kata dimas
“gamasalah dim namanya juga perang pasti ada korban” kata gua
“iya tapi salah gua sampai lu kaya gini” kata dimas
“kalem, itulah kenapa gua ada di samping lu dim, biar bisa mengisi sesuatu yang kurang dari apa yang elu punya sekarang ini” kata gua
“oke wil sorry ya” kata dimas
“dah dah pacarannya kalian udah dong masih luka gitu” kata tiara
“iya gini deh, karena kejadian ini berat jadi gimana kalau kita buat perjanjian?” kata nanda
“janji apaan?” kata gua
“JANJI SAHABAT” kata nanda

google+

linkedin

About Author
  • Berawal Dari Coba coba, Hingga menjadi hobi yang menyenangkan. Dan kini tetep akan berkarya mulai dari sekarang, kini dan nanti hingga keadaan yang mengakhiri. Read More

    0 komentar:

    POST A COMMENT

     

    Google+ Followers