Penglihatan Lebih ( Part 44 ) Behind The Mysterious House

Cerita Campur - Behind The Mysterious House

Kita semua sedikit terkejut dengan omongan yang di jelaskan oleh nanda, rumah ini kosong, angker, kenapa ga ada isinya dari tadi? Setanpun ga ada, apa yang salah sama rumah ini. Dengan cepat gue sama dimas memanggil teman kita.

“mbah bram” kata gue
“nyai gun” kata dimas
“iya dek” kata mbah bram dan nyai gun
“mbah, coba cari di sekitar rumah ini semuanya, kenapa rumah ini kosong, dari tadi saya tidak melihat setan mbah” kata gue
“iya nyai coba di cari ke semua kamar, sama sekitar area rumah ini kenapa dari tadi kita ga liat ada setan, bisa bantu kita nyai?” kata dimas
“bisa dek” kata nyai gun
“memang ada apa dek?” kata mbah bram
“iya mbah itu dia, kita dari tadi ga nemu atau ngeliat setan di rumah ini padahal ini rumah kosong dan juga buat saya merinding mbah, bisa bantu saya kan mbah?” kata gue
“bisa dek saya akan bantu dek wildan” kata mbah bram
“yaudah nyai cari daerah sekitar dulu aja mulai dari luar rumah ya” kata dimas
“baik dek” kata nyai gun
“mbah nyari di dalem rumah ini ya mbah” kata gue
“baik dek saya mohon ijin” kata mbah bran
“iya mbah” kata gue

Mbah bram dan Nyai gun pun pergi, setelah mereka pergi kita melihat-lihat lagi kamar atas, ternyata di atas ini ada dapurnya juga bukan di bawah aja, dapur ini lebih berantakan lagi dan baunya ga karuan, bekas piring kotor yang bentuknya jadul abis, dan keran yang telah berkarat, gamau pegang gue kena tetanus nanti. 




“gila baunya, gue ga kuat” kata gue nutup idung
“iya ini bau apaan sih busetttttt” kata dimas
“nohhhh, liat bekas makanan semua ada piring bekas semua kebayang baunya kan?” kata gue nunjuk
“dah ah yu keluar ga kuat ngapain juga kita disini” kata tiara
“yu ah aku ga kuat pengen muntah” kata nanda

Kita keluar dapur tiara sama nanda mau muntah jadi kita sebagai cowok cuman bisa nepuk-nepuk punggungnya aja.

“dah dah jangan muntah ga sopan nanti ada yang marah” kata gue
“iya yang aku tahan deh” kata tiara
“heissssss jangan muntahhhhhhh” kata dimas nutup mulutnya nanda
“hemppppppp” nanda berusaha buka mulutnya
“awas anak orang mati dimasssss” kata gue
“ga bakal dari pada muntah disini berabe” kata dimas
“ya cuman cara kamu ga gitu juga kali ih” kata nanda kesel
“iya iya maap dehhhhh” kata dimas
“dah yu kita cek-cek lagi” kata gue

Kita melanjutkan penelusuran rumah ini, di lantai atas ini hanya ada kamar-kamar kosong aja, ga ada tanda-tanda seperti kamar bawah tadi yang berupa foto atau buku yang kita temuin. Karena gue penasaran jadi gue menyarankan semuanya buat meriksa kamar pertama tadi dimana ada gue sama nanda nemuin sesosok cewe yang sedang bersedih.

“kebawah dah, tadi kamar pertama yang gue cek sama tiara ada sosok cewe lagi nangis, cuman belom gue tanya-tanya” kata gue
“yaudah yu kita tanya mau ga?” kata dimas
“ya ayoooo, ga masalah” kata tiara

Kita ber 4 menuju lantai pertama dimana tadi ada cewe menangis di kamar pertama gue periksa, setelah sampai di depan kamar itu hawa merinding muncul lagi.

“ini apaan sih merinding gini gue” kata gue
“iya sama makanya apaan ya” kata dimas
“dah udah biarin aja gue lebih penasaran sama cewe yang nangis disana” kata nanda nunjuk setan itu
“yaudah yu” kata gue

Kita semua memasuki kamar itu dan nyamperin nih cewe nangis di pojokan ruangan yang gatau kenapa nangis ga berenti-berenti, kita semua jongkok di depan dia.

“halo, permisi” kata gue
“permisi mau nanyaaa” kata tiara
“huhuuuuuuu” cewe ini masih nangis
“gimana nanya nya dah” kata gue
“coba sini gue yang tanya” kata dimas maju ke depan gue jongkok persis depannya
“maaf, kamu kenapa nangis?” kata dimas
“huhuuuuu” kata cewe ini
“mbak bisa berenti dulu ga nangisnya sebentar kita mau tanya” kata gue
“.....” akhirnya cewe ini menunjukan mukanya dan ternyata matanya keluar tangisan darah
“oke dia nangis darah mampus gue” kata dimas mundur sedikit
“tahan sih dim ah” kata gue
“maaf kamu kenapa nangis disini?” kata tiara
“aku....” kata dia
“iya kenapa?” kata tiara
“aku... aku ngebunuh....” kata dia
“ngebunuh siapa neng?” kata tiara
“aku.... ngebunuh.....keluargaku” kata dia

Sontak bulu kuduk gue merinding semuanya, perasaan gue ga enak setelah dia ngomong gitu mimik muka dimas sama tiara yang ada di sebelah gue mukanya berubah takut gue coba buat nahan rasa takut gue

“kenapa di bunuh?” kata gue
“mereka....” kata dia
“jangan ngomong patah-patah napa neng, buat jadi horror lu” kata gue
“kalem wil kalem” kata dimas
“iya mereka kenapa neng?” kata tiara
“mereka.... mereka.... gamau aku ada dir umah ini” kata dia
“kenapa mereka gamau kamu ada di rumah ini?” kata tiara
“mereka...... memperlakukan saya.... bukan selayaknya.... seorang... anak... huhuuuuuu” kata dia

Oke gue merinding lagi jadi dia bales dendam ke keluarganya karena sakit hati di perlakukan tidak wajar oleh keluarganya.

“kamu di apain aja emang?” kata tiara
“mereka.... mereka.... menyuruh saya... selayaknya seekor binatang” kata dia
“terus?” kata tiara
“mereka tidak..... memberikan kebebasan.... kepada... saya” kata cewe ini menatap tiara
“yang aku takut” tiara mundur 
“oke oke, neng namanya siapa?” kata gue
“nama saya.... (sorry gue sensor ga bisa gue sebutkan namanya), saya tinggal disini.... huhuuuuuuu” kata dia
“oke mbak aja ya saya panggilnya, tadi kita menemukan buku ini, apakah ini punya kamu?” kata gue ngasih buku yang gue kasih
“iya....itu punya saya” kata dia meminta bukunya kembali

Gue kasih bukunya karena memang bukan punya gue, percuma berdebat kondisi begini lagian kan gue pengen nyari tau.

“oke di halaman belakang ada tulisan “ALONE”, itu maksudnya apa ya?” kata gue
“saya yang menulisnya, karena saya merasa sendirian, bertahun-tahun saya tidak boleh keluar dari rumah ini sama keluarga saya, huhuuuuu” kata dia
“kenapa ga boleh keluar? Apa alesannya” kata dimas
“SAYA TIDAK TAHUUUU!!!!! Saya tidak boleh keluar dari rumah ini, SAYA TIDAK PUNYA TEMAN” kata dia melotot
“woeeee kalem buset” kata dimas
“kalem dim tahan, oke, kamu ngebunuh keluarga kamu karena memperlakukan kamu seperti binatang dan tidak di perkenankan keluar dari rumah karena suatu hal kan? Nah yang saya mau tau kamu bunuh mereka dimana ya?” kata gue
“.....” dia menunjuk ke arah luar sana cuman gue, dimas dan tiara masih menatap dia
“di kamar utama sana?” kata gue
“iya di kamar utama sana huhuuuuuu” dia menangis lagi
“udah donggg jangan nangis mbak udah keluar darah tuh” kata dimas
“ya dia begini pasti keluarnya darah dim lu kira keluarnya asi” kata gue
“udah udah ih serius kenapa sih, kamu bunuh mereka dengan cara apa?” kata tiara
“HAHAHAHHAHAHA” kata dia tertawa

Sontak gue, tiara dan dimas terduduk dari yang sebelumnya jongkok karena kaget.
“SAYA TUSUK MEREKA, SAYA BAKAR MEREKA, SAYA POTONG MEREKA, MEREKA JAHANAM HAHAHHAHAHAHA” kata cewe ini
“buset astagaaaaaa kaget gue” kata gue

Dimas nengok kebelakang terus dia teriak.

“WIL WOE WILLL” kata dimas
“apaan sih ah” kata gue liat dia
“nanda mana?” kata dimas
“hah?” kata gue 

Gue sama tiara nengok kebelakang dan ternyata bener nanda ga ada, pantesan dari tadi kita ga liat dia dan ga denger suara dia sama sekali.

“lahhh tiara mana yang?” kata tiara
“MANA GUE TAOOOOOO” kata gue bingung

Kita semua nengok ke cewe ini lagi.

“Mbak...... lahhhhh” kata gue ternyata dia menghilang
“oke yang aku kali ini ga kuat merinding” kata tiara ketakutan megang tangan gue
“i....ilang wil” kata dimas
“GUE LIAT ANJING, LU KIRA GUE GA LIAT KURAAAAAA” kata gue
“kalem bos, ini nanda gimana wil?” kata dimas cemaas
“ya cari lah gimana sih, malah nanya gimana” kata gue
“oh iya bener” kata dimas
“yaudah yu kita cari” kata tiara

Kita semua keluar kamar dan teriak manggil-manggil nama dia berkali-kali.

“NANDAAAAAAAAA..... NANDAAAAAAAA” kata kita bertiga manggil nama dia teriak.


EmoticonEmoticon