Penglihatan Lebih ( Part 33 ) Last Strategy | Cerita Campur
Breaking News
Loading...

Penglihatan Lebih ( Part 33 ) Last Strategy

Cerita Campur - Last Strategy 

“GUA MAU PANGGIL MBAH YIN” kata gua 
“hah siapa tuh” kata dimas
“liat aja sama mata lu” kata gue nyengir

Datanglah Mbah Yin di samping gua, Macan hitam jauh lebih besar dari pada Mbah Bram dan jauh lebih kuat karena macan ini adalah ketua dari semua macan yang ada di keluarga mesar gua, istilahnya rajanya. Badannya hitam dan matanya yang biru langit, berdiri gagah di samping gua dan gua liat dimas ga bisa ngomong.

“dim sini stratergi gua, lu siap?” kata gue nyengir kemenangan
“lu... gila” kata dimas
“gua bilang kan jangan main – main sama gua, siap tanggung resikonya” kata gua nyengir
“dek wildan” kata mbah yin
“iya mbah, bisa bantu saya kan mbah” kata gua
“saya siap dek, apa yang harus saya lakukan?” kata mbah yin
“mudah saja mbah, energi mbah banyak kan?” kata gua
“energi saya sangat banyak dek, sepertinya dek wildan terluka” kata mbah yin
“ini ga seberapa mbah di banding yang disana” kata gua nunjuk mbah bram yang sedang berusaha bertarung
“mbah bram sangat kuat dek” kata mbah yin
“ya mbah saya tau tapi dia butuh sedikit bantuan dari mbah” kata gua
“apa yang bisa saya bantu?” kata mbah yin
“sebentar mbah” kata gua
“baik dek wildan” kata mbah yin

Disaat sengitnya antara mbah bram dan mbah mun sudha terlihat bahwa mbah bram mulai ke habisan tenaga, tapi mbah bram masih berusaha berdiri dengan 4 kakinya yang kekar. Akhirnya gua memutuskan untuk memulai strategi yang telah gua susun rapih.

“Mbah bram” kata gue dalem hati
“iya dek wildan” kata mbah bram
“mundur sedikit mbah tapi tetap waspada” kata gua
“ada apa dek wildan” kata mbah bram
“saya akan memulai strategi yang saya bilang tadi mbah” kata gua
“baik dek wildan” kata mbah bram

Mbah bram mundur beberapa langkah dan gua mulai ritual pemindahan energi.

“mbah yin” kata gua
“iya dek” suara beratnya mbah yin
“mbah, apakah mbah bisa memberikan energi kepada mbah bram?” kata gua
“bisa dek” kata mbah yin
“kalau bertarung sambil memberikan energi ke mbah bram?” kata gua
“saya bisa melakukannya sekaligus, bahkan membagi enegi saya buat dek wildan dalam kondisi seperti ini” kata mbah yin
“baik mbah kalo gitu tolong mbah, mbah bagi energi sedikit saja kesaya, dan beberapa energi ke mbah bram, tapi mbah sambil bertarung sementara dengan mbah yin ya mbah” kata gua
“baik dek saya bisa mengatasi dek, kapan?” kata mbah yin
“sekarang mbah” kata gua
“baik dek, saya pergi” kata mbah yin

Mbah yin jalan santai ke depan di ikuti oleh mbah bram yang menunduk ke arah mbah yin ini, ibarat seorang raja lewat, mbah yin diri tegak di depan Mbah Mun yang mengeluarkan api hitamnya itu sedangkan mbah yin tidak mengeluarkan aura sedikitpun. 

“mbah bram, nanti mbah yin akan memberikan energi ke mbah bram, mbah siap ya” kata gua
“baik dek saya akan memulai meditasi” kata mbah bram
“sekarang mbah” kata gua 
“baik dek” kata mbah bram

Mbah bram merubah posisinya seperti tiduran dan kepalanya menunduk, yang menyatakan kalau mbah bram sudah siap.

“Mbah Yin, mbah bram sudah siap” kata gua
“baik dek wildan akan saya mulai” kata mbah yin

Bukan mbah bram saja yang meditasi gua pun melakukan meditasi dan memejamkan mata. Setelah beberapa saat gua pejamkan mata yang hanya gua dengar adalah hembusan angin yang jauh lebih besar dan sama sekali tidak ada auman harimau melainkan suara bantingan bertubi-tubi, entah apa yang terjadi gua gatau gua hanya memejamkan mata untuk mendapatkan energi dari mbah yin.

Gua merasakan badan gua dingin dari kepala masuk ke dada seperti air, dan gua merasakan adanya energi yang kuat, entah apa ini tapi yang ini energinya berbeda. Setelah beberapa lama meditasi gua di suruh membuka mata oleh mbah yin

“dek sudah saya lakukan” kata mbah yin
“baik mbah” kata gua

Gua buka mata gua yang gua dapati adalah mbah yin di serang bertubi-tubi tetapi dia hanya diam tidak menyerang sama sekali, setiap kali Mbah Mun ingin menyerang mbah bram yang sedang meditasi yang terjadi adalah di tarik oleh mbah yin dengan mudahnya seperti melempar sehelai kertas. Mbah Yin ini sangat kuat dia tidak menyerang dan tidak mengeluarkan aura sebenarnya. Mbah Bram pun tidak lama mengangkat kepalanya dan mencoba berdiri tegak dan ternyata dia sudah pulih tenaganya.

“dek wildan terimakasih saya sudah pulih” kata mbah bram
“bukan saya mbah tapi mbah yin” kata gua
“tetapi energi ini bisa berhasil masuk karena permintaan dari dek wildan” kata mbah bram 
“terserah apalah mbah, apakah mbah sudah siap lagi?” kata gua
“sudah siap dek dan saya merasakan sesuatu yang berbeda” kata mbah bram nengok ke gua dan senyum 

Gua bisa berdiri tegak kali ini yang gua dapat hanya dimas yang masih tidak berdaya mengangkat badannya berdiri tegak. 

“dek wildan, sekarang mbah bram sudah kuat” kata mbah yin
“kuat gimana mbah?” kata gua
“dek wildan akan lihat sendiri oleh mata dek wildan jika mbah bram sudah berbeda” kata mbah yin
“berbeda dimana mbah saya tidak melihat perbedaan” kata gua
“saya akan mundur dan dek wildan akan melihatnya sendiri” kata mbah yin

Mbah yin menatap mbah bram dan mbah bram mengangguk kepada mbah yin, sejak saat itu juga mbah yin loncat ke arah gua dan diri tepat di samping gua, gua liat mbah yin, dia seperti percaya apa yang telah dia lakukan.

“dek perhatikan mbah bram” kata mbah yin dengan muka sangarnya tanpa senyum sedikitpun melihat ke arah depan, beneran songong dah nih macan.

Gua liat ke arah mbah bram kali ini mbah bram yang berdiri tegak di depan mbah mun, mbah mun belum ada luka yang di hasilkan oleh mbah yin karena dia hanya bertahan dari tadi. Saat mbah bram siap untuk menyerang dia sempat melihat ke arah gua dan ternyata yang tadinya matanya hitam di kedua sisi kali ini kanan menjadi merah api dan kiri menjadi biru pekat. Cukup kaget dengan apa yang barusan gua lihat dari mata saja sudah berbeda tatapannya. Setelah dia melihat kembali ke arah mbah mun ternyata badannya mengeluarkan api, tapi kali ini 2 api, biru dan merah secara bersamaan, dapat di bayangkan tenaga apa yang di berikan oleh mbah bram oleh mbah yin ini. 

“mbah, kenapa mbah bram ada 2 api sekarang?” kata gua ke mbah yin
“iya dek, karena tadi saya memberikan energi khusus kepada mbah bram, dan energi chakra untuk dek wildan” kata mbah yin
“bisa 2 energi berbeda seperti itu mbah?” kata gua
“saya memiliki 5 energi khusus di badan saya dek, makanya dengan mudahnya saya bertahan dari serangan mbah mun” kata mbah yin
“canggih juga mbah” kata gua
“canggih itu apa dek?” kata mbah yin
“yaelahhh ampun, canggih itu keren mbah” kata gua
“baik dek saya mengerti” kata mbah yin

Gua kira boss macan lebih pinter ternyata sama aja bloonnya ampun deh, kembali kemedan perang, mbah bram di serang oleh mbah mun dengan tongkatnya yang besar itu, ternyata apa yang terjadi “TRANGGGGGGG” suara tongkat mbah mun menghantam mbah bram tapi tidak ada goyangan sama sekali dari mbah bram, dia tetap berdiri tegak dengan kokoh.

“LICIK LU baik APA YANG LU PAKE” kata dinas
“itulah strategi, lu abisin semua pas awal, dan belum tau siapa yang mau lu bantu untuk menolong, sedangkan gua sudah tau siapa yang mau gua panggil dan bakalan gua pakai ke siapa” kata gua
“KENAPA GA PAKE MACAN ITEM LU” kata dimas
“Dia gua pake? Sekali gigit ular lu belah” kata gua
“SETAN, AYO MBAH MUN SERANG MBAH BRAM” kata dimas

Mbah Mun menyerang dengan sekuat tenaga dan dengan segala cara, mulai dari melilitnya terlebih dahulu hingga memukulnya bertubi-tubi dengan rasa penasaran gua menyuruh mbah bram beraksi.

“mbah, show me your new skill” kata gua
“artinya apa dek?” kata mbah bram
“tunjukin kemampuan mbah yang baru mbahhhh” kata gua
“baik dek, kalau itu saya mengerti” kata mbah bram
“yaelah mbah, udah serang aja deh serang, penasaran sama mbah yang baru” kata gua
“baik dek” kata mbah bram

Mbah bram menggigit tongkat mbah mun dan melemparnya lalu menghantam mbah mun ke tanah dengan keras, angin begitu besar. Mbah mun yang biasanya bisa berdiri tegak ini sekarang jatuh tidak berdaya dan berusaha berdiri. Mbah bram jalan di sekitarnya seperti menunggu mbah mun bangun, kaya nantangin sih lebih tepatnya “BANGUN LO” kaya gitu kali ya kalo kita. 

Setelah mbah mun bangun dan memegang tongkatnya pada posisi siap menyerang mbah bram menghantamnya kembali dengan lebih keras dan terjatuhnya kembali mbah mun dengan luka yang cukup serius, kembali kembali kelakuan mbah bram yang menunggu musuhnya bangun, cowo banget emang. Saat bangun mbah mun tiba-tiba lebih pekat lagi api hitamnya sepertinya nafsu atau marah untuk membunuh mbah bram, tapi dengan santainya mbah bram menunggu apa yang akan terjadi.

“mbah dia kayaknya marah mbah” kata gua
“tidak masalah dek saya bisa mengatasi, kesaktian saya telah meningkat” kata mbah bram
“baik mbah kalau butuh sesuatu bilang mbah saya punya cakra yang cukup” kata gua
“baik dek, simpan dulu saja buat dek wildan” kata mbah bram
“oke mbah, hati-hati mbah” kata gua

Mbah bram melihat ke arah ane dan mengangguk, artinya “yoi mamennnnnn” gitu kali ya bahasa gaulnya, kayaknya. Mbah bram menerkam Mbah Mun dengan mudahnya dan berasa musuhnya adalah anak kecil, ane samperin dimas yang hanya bisa jongkok disana.

“dim udahin ini, lu ga kasian apa sama ular lu liat, dia udah kuwalahan buat lawan mbah bram” kata gua nunjuk.
“gua ga akan nyerah, liat nyai gun lagi bertapa buat memulihkan tenaganya.” Kata dimas nunjuk

dan gua baru sadar kalau memang nyai gun sedang bertapa di belakang dimas untuk memulihkan tenaganya.

“udah mas sumpah ga akan menang elu, udah lepasin” kata gue
“tadi lu yang nyuruh buat ga nyerah kan? Gua ladenin kampret” kata dimas
“iya tapi liat kondisi lu kaya gini udah darah dimana-mana lu mau seberapa parah lagi kampret” kata gua
“ini ga seberapa di banding gua puas bertanding sama lu” kata dimas
“udah lepasin dim, salah satu dari kita ga akan ada yang berakhir bahagia” kata gua
“ada yaitu gua” kata dimas

Tiba-tiba nyai gun membuka matanya dan melotot ke arah gua setelah itu masuk ke badan dimas, pada saat itu juga dimas bisa diri tegak.

“sekarang giliran gua kampret” kata dimas

Bogem tangan yang keras masuk ke perut gua, rasanya super sakit karena gua ga ada isi.

“dek wildan” kata mbah bram nengok ke gua
“gapapa mbah fokus aja ke Mbah Mun” kata gua
“tapi dek wildan...” kata mbah bram
“gapapa mbah udah lanjutin aja” kata gua

Mbah bram menyerang dengan cepatnya entah apa yang dia pikir, sedangkan Mbah Yin diam karena ane suruh jangan ikut campur ini antara gua sama temen gua.

“serang gua kampret, mau lu apa sih diem gini lu bisa mati” kata dimas
“hah, gua ga akan mukul temen gua, udah cukup gua buat luka” kata gua
“lu bisa mati kampret, masukin mbah yin ke badan lu ga” kata dimas
“ga bakal gua masukin dia ke badan gua, lu bakal parah, MATI” kata gua

Dia mukul perut dan muka gua berkali-kali dengan isi di badannya, rasa panas tiap pukulannya ada di badan gua, sakit rasanya, pada pukulan terakhir gua terjatuh dan hampir udah ga bisa bangun lagi.

“sorry wil gua harus lakuin ini buat bokap gua” kata dimas
“LANJUTIN....” kata gua teriak




Dimas mau nendang perut gua, gua cuman bisa merem aja karena rasanya bakalan sakit, taunya ga ada rasa sakit saat kakinya kena ke perut gua. Ada hawa kuat deket gua, saat gua buka mata ternyata dimas tergeletak di tanah ga bisa bangun, dan gua liat mbah bram sudah menghabisi mbah mun dan nyai gun di lumpuhnyannya juga. Sehingga dua ular itu tidak ada yang bisa bangun, mbah bram datengin dia dengan lari, gua liat dimas yang terkapar dalam posisi gua juga tiduran.

“dim, liat apa yang lu liat? Gua menang....” kata gua
“wil sadar wil......” kata dimas berteriak

Tanpa terasa mata gua tiba-tiba terpejam ga merasakan apapun, Kayaknya gua pingsan karena gua udah di pukulin habis-habisan sama dimas dengan isi jinnya. Ya gua PINGSAN.......

google+

linkedin

About Author
  • Berawal Dari Coba coba, Hingga menjadi hobi yang menyenangkan. Dan kini tetep akan berkarya mulai dari sekarang, kini dan nanti hingga keadaan yang mengakhiri. Read More

    0 komentar:

    POST A COMMENT

     

    Google+ Followers