Penglihatan Lebih ( Part 29 ) Sparing

Cerita Campur - Sparing 

"KITA DI SURUH SPARING JIN" kata gue sama dimas bersamaan
"hahhhh? kok bisa?" kata tiara
"gatau itu permintaan bokapnya dimas, aku juga pusing otak aku mau meledak" kata gue
"yah yah yank gimana dong?" kata nanda cemas
"ya gatau ini malah nanya, pusing pusing. Bener deh kalo bisa milih gue gamau sparing beginian" kata dimas megangin kepala
"emang lu doang kampret, gue juga setan" kata gue nendang kaki dia
"makanya gue bingung setan" kata dimas
"yaudah aku bilang ke mama kamu buat batalin ya" kata tiara mau diri tapi gue tahan
"gausah ga usah dah ga usah macem-macem" kata gue
"nanti kalo pada kenapa-kenapa gimana coba?" kata tiara cemas
"gak kok ga bakal kenapa-kenapa, aku yakin makanya kenapa mereka semua ada di sini dan mereka yang meminta" kata gue
"bener sih kalo di pikir-pikir mereka pasti bisa netralisir semuanya nanti kan?" kata dimas
"iya makanya tapi gue tetep bingung dim, masa gue harus lawan elu sih ga ada yang lain apa" kata gue
"mending gue lawan kunti yang umurnya ribuan tahun deh" kata dimas
"maka dari itu" kata gue




Sejenak kita semua hening rasa ngantuk tiba-tiba hilang gara-gara kata SPARING doang, ini lawan sahabat gue sendiri yang udah gue anggep keluarga kalau dia kenapa-kenapa gimana? kalo gue yang kenapa-kenapa tiara gimana? dimas pasti ga mikirin gue kayaknya. Ini salah satu masalah besar buat gue dan dimas, lawan partner sendiri bukanlah hal yang mudah buat batin.

"wil gue khawatir sama lu" kata dimas
"kenapa lagi?" kata gue lemes
"iya gue takut lu kenapa-kenapa nanti" kata dimas
"dengerin gue, lu nganggep gue partner kan? gue serius ini" kata gue
"iyalah gue anggep lu partner apa yang terjadi sama lu berarti terjadi juga sama gua" kata dimas
"kalo gitu jawabannya simpel, gue percaya sama partner gue sendiri kalau dia tau kapan harus memulai dan kapan harus berenti" kata gue liat dimas.
"makasih wil gue juga percaya sama lu" kata dimas
"dengerin gue ya gatau sampai kapan gue bakalan cuman punya partner yang gue percaya yaitu elu, jadi gue percaya sepenuhnya sama lu" kata gue megang bahu dimas
"gue juga janji partner gue cuman lu dan gue gamau di ganti sama orang lain" kata dimas
"aku takut kalian kenapa-kenapa" kata tiara nangis
"loh kok nangis" kata gue
"iya aku takut kalian tuh kenapa-kenapa, kalian sama-sama kuat aku takut salah satu di antara kalian terluka" kata tiara nangis
"iya kalian tau ga sih perasaan cewe kalau tau pacarnya berantem? apa lagi kondisi begini lawan temennya sendiri" kata nanda nangis juga
"percaya sama kita kalau ini cuman berlangsung sebentar dan gak akan ada yang terluka parah" kata gue
"gue janji ga akan lukain wildan kalem sih, ga bakal gue buat dia masuk rumah sakit, kalau sampai masuk gue yang tanggung jawab nungguin dia di rs" kata dimas
"bukan masalah nungguinnya dim, tapi sedih tau ga kalian berdua berantem, awalnya gara-gara penasaran doang tau ga" kata tiara nangis
"iya gue ngerti dah kalem pacarlu aman kalo di tangan gue" kata dimas

Gue sama dimas nenangin 2 cewe manis yang pada nangis ini, gatau ini langkah yang bener apa engga tapi gue percaya sama temen gue sendiri dan itu nyata. Sekarang gue harus ambil langkah ngasih tau mbah bram kalau dia bakal lawan nyai gun.

"mbah bram" kata gue manggil mbah bram
"iya dek wildan" kata mbah bram muncul di samping gue
"ada kabar untuk mbah bram" kata gue
"ada kabar apa dek?" kata mbah bram
"mbah bram akan melawan nyai gun nanti malem" kata gue dengan berat hati
"....." mbah bram seperti bingung
"Nyai Gun" kata dimas
"iya dek dimas" kata nyai gun muncul
"nanti nyai harus bertarung melawan mbah bram ya" kata dimas
"mengapa saya harus melawan mbah bram dek?" kata nyai gun
"di suruh papa buat latihan nyai, papa mau tau kehebatan nyai" kata dimas
"...." nyai gun pun terdiam
"apakah saya harus melawan nyai gun dek?" kata mbah bram
"iya mbah di suruh sama uwa buat lawan nyai gun" kata gue
"apakah tidak apa-apa untuk nyai gun dek?" kata mbah bram
"gatau mbah, gimana nyai gapapa lawan mbah bram?" tanya gue
"saya bagaimana dek dimas dek" kata nyai gun
"yaudah mbah harus siap ya nanti lawan mbah bram" kata dimas
"baik dek dimas, saya bersedia" kata nyai gun
"baik saya juga bersedia" kata mbah bram

Mereka saling bertatapan kaya mau perang sekarang kan gue bilangnya malem. 

"dah dah jangan saling tatapan gitu, yaudah mbah sekarang mbah boleh meditasi atau ngapain dulu nanti saat waktunya mbah saya panggil ya" kata gue
"beik dek wildan" mbah bram menghilang
"nyai juga nyai sama, nanti saya panggil kita mau ngobrol dulu" kata dimas
"baik dek" nyai gun menghilang juga

Ngomong sama 2 cewe udah, ngomong sama 2 jin sudah, gue harus beranikan diri buat lawan temen gue sendiri mau gamau, akhirnya gue pindah agak jauhan dan gue meditasi sebentar sambil menunggu malam untuk memulihkan pikiran dan energi, Semenjak ane tutup mata gue gatau apa yang dilakuin dimas yang gue rasain cuman keheningan untuk memulihkan energi gue, membersih kan energi gue. Gue cuman berusaha fokus ke dada gue karena semua energi adanya di dada gue, keringet sudah mulai keluar dari kepala gue, tiba-tiba ada tangan yang melingkar di perut gue, gue rasa ini tiara tapi gue ga gubris gue fokus dulu ke meditasi ini, gue anggap serius karena gue gamau buat temen gue kecewa kalau gue mengalah atau lainnya, karena mengalah tidak dapat menyelesaikan masalah yang sekarang gue hadapi.

Setelah beberapa lama meditasi keringet gue udah banjir akhirnya gue membuka mata gue, depan gue ada tiara yang mukanya masih sedih, gue cuman bisa ngusap air matanya dan memaksakan bibir gue buat senyum walau terasa berat, gue liat jam sudah mau malam dan saatnya gue membersihkan keringet gue di kamar mandi, gue liat dia meditasi juga tapi sepertinya belum selesai, gue liat dari auranya hitam karena jinnya dia sendiri sudah hitam, gue gamau ganggu dia yang lagi meditasi juga, gue pergi ke kamar mandi gue ngaca gue cuman bilang "gue tau ini berat tapi lu harus bisa sekali ini aja" kata gue, jujur lawan temen sendiri adalah hal yang paling berat, setelah gue keluar kamar mandi ternyata dimas sudah selesai dari meditasinya.

"udah beres lo?" kata dimas
"udah nih gue baru cuci muka keringetan gue" kata gue
"sama nih tar gue ke kamar mandi dulu" kata dimas
"yank kamu serius ini mau lawan dimas?" kata tiara
"mau gimana lagi" kata gue
"jangan sampe dimas kenapa-kenapa ya" kata tiara
"percaya sama aku, gabakalan aku buat dia kenapa-kenapa" kata gue
"sayang kamu" kata tiara memeluk gue dan gue cuman bisa bales pelukannya doang
"wil, gue mau bilang sesuatu sama lu" kata dimas
"apaan nyet?" kata gue sambil meluk tiara
"jangan ngalah sama gue" kata dimas
"gabakal, lu juga jangan ngalah sama gue, gue ga suka lu ngalah ya atau nyerah" kata gue
"sama gue juga gamau, jangan buat gue kecewa lo" kata dimas ngasih tangan ke gue
"sama, jangan buat gue mikir 2 kali buat lawan lu" kata gue jabat tangan dia juga

Kita semua turun kebawah dan ternyata semua sudah kumpul di ruang tengah (dari tadi juga di ruang tengah kali ya). Kita semua ke arah mereka yang lagi ngeliatin kita.

"udah pada siap?" kata bokapnya dimas
"mau gamau harus siap om" kata gue
"siap pah" kata dimas
"sip gitu dong, peraturannya simpel, pakai jin masing-masing sampai ada yang bilang menyerah atau kira-kira sudah cukup, dan boleh menggunakan jin bantuan kalau misalnya di perlukan, dari siapapun seperti misal dimas pakai dari papanya dan dimas pakai dari kakak spupunya, dan itu cuman 1 jin pembantu. udah pada ngerti kan?" kata uwa gue
"udah wa" kata gue
"siappp" kata dimas
"yaudah yu kita semua kebelakang kalo di depan nanti diliatin sama tetangga di kira orang gila" kata bokapnya
"hehehe bener juga pak" kata nyokap gue

Kita semua menuju halaman belakang rumah dimas yang luas, tiara megangin tangan gue ga mau lepas, kakak spupu gue yang cewe kak annisa ngerangkul gue dengan bisiknya "tenang aja wil lu pasti bisa dan menang" sayangnya bukan kata-kata itu yang gue pengen soalnya gue lawan partner gue sendiri, Nyokap, uwa, dan semua kakak sepupu gue beserta papanya dimas berdiri di pinggir taman gue liat nanda sama tiara kaya nahan nangis. Gue sama dimas ambil posisi masing-masing beneran kaya mau duel, tapi gue jabat tangan dimas dulu.

"jangan ngecewain gue" kata gue ngasih tangan
"lu juga nyet" kata dimas senyum jabat tangan gue
"oke semua siap ya? boleh panggil jin masing-masing" kata uwa gue
"Mbah Bram" kata gue dalem hati dan muncul mbah bram
"iya dek wildan" mbah bram di samping gue berdiri tegak
"sekarang saatnya mbah siap" kata gue
"baik dek wildan" mbah bram berdiri di tengah begitupun dengan dimas sudah pasang posisi untuk nyai gun ular yang bertambah besar itu dan tongkatnya yang lebih panjang.
"mbah jangan ngalah ya, hajar aja kalau memungkinkan" kata gue
"baik dek saya akan bantu dek wildan" kata mbah bram
"saya yakin mbah bram bisa" kata gue
"saya harap begitu dek, nyai gun sudah bertambah ilmunya" kata mbah bram
"ga usah khawatir mbah, saya punya rencana" kata gue
"baik dek, saya percayakan sama dek wildan" kata mbah bram

"siap yaaaaa..." uwa gue ngasih aba-aba.
"siap...." kata gue
"siap juga" kata dimas
"mu......." MULAI KENTANG....


EmoticonEmoticon