Penglihatan Lebih ( Part 30 ) Sparing Keras | Cerita Campur
Breaking News
Loading...

Penglihatan Lebih ( Part 30 ) Sparing Keras

Cerita Campur - Sparing Keras

“Siap semua” kata uwa gue
“siappp...” kata gue
“Siap juga disini” kata dimas
“Mu......Lai....” kata uwa gue

Setelah kata kata Mulai gue sama dimas masih terdiam menunggu siapa duluan yang menyerang, gue atau dia. Gue udah ga peduli siapa aja yang menonton gue ga hiraukan siapapun kecuali dimas dan nyai gun di depan sana. Nyai gun sudah memegang tongkatnya dengan dua tangan dimana sebelumnya masih satu tangan.

“Mbah siap” kata gue
“baik dek” mbah bram bersiap posisi menyerang dengan tenang
“Mbah, jangan takut ada saya disini mbah” kata gue
“baik dek, saya justru khawatir sama dek wildan” kata mbah bram
“ga usah takut mbah fokus aja ke jin ular yang disana, dimas urusan saya” kata gue
“ baik dek” kata mbah bram
“woeeee ini mau perang apa gimana” kata dimas teriak
“menurut lo nyet?” kata gue
“lu kira gue takut?? Maju nyai” kata dimas
“maju setan” kata gue ngomporin.
“Serang mbah” kata gue dalem hati
“baik dek” mbah bram meluncur




Dimas menyuruh nyai gun menyerang dan begitupun dengan mbah bram, mereka bertarung di tengah dan dengan sekejap mbah bram di lilit oleh ular hitam itu tapi beberapa kali mbah bram berhasil dari lilitan ular yang terlah berubah itu.

“eh setan gue ga ada kerjaan” kata dimas
“lu mau tes tenaga nyet?” kata gue
“sini lu bangke” kata dimas
“maju setan” kata gue

Bukan mbah bram dan nyai gun saja yang sedang berperang, akhirnya gue sama dimas berantem juga, jujur memang kalau power dimas lebih kuat gue cuman bisa deffence doang ga bisa nyerang buat lawan dimas. Beberapa kali muka gue kena pukul gue ngerasain sakit di muka gue tapi beberapa kali juga kaki gue nendang pinggulnya yang dia lupa adalah gue ikutan bela diri. Gue liat sebentar ke arah tiara dan nanda mereka cuman bisa nangis sedangkan para orang tua dan sodara gue matanya tertuju ke arah jin kita.

“dek wildan saya harus bagaimana?” kata mbah bram

Gue liat mbah bram di lilit dan lehernya di cekek sama tongkatnya nyai gun yang berarti nyai gun memang sudah bertambah kuat.

“masih kuat ga mbah?” kata gue
“masih dek tapi saya bingung harus bagaimana” kata mbah bram
“cuman ada satu cara mbah ulur waktu” kata gue
“ulur waktu dek?” kata mbah bram
“iya mbah jangan sampai mati mbah” kata gue
“baik dek” kata mbah bram

Mbah bram mengeram dan berhasil lepas dari lilitan nyai gun kembali dan di lemparnya nyai gun ke ujung taman, kuat juga mbah bram bisa ngelempar ular segitu gede. Pas gue lagi liatin mbah bram ternyata muka gue di tonjok.

“woe lawan lu disini, lu lengah bego” kata dimas mukanya marah
“cuihhhh (ada darah) tonjokan lu cuman segitu? Ga kerasa bos” kata gue
“anak setan” kata dimas mau nendang gue yang lagi terjatuh.

Gue tangkep kakinya gue tendang kaki satunya dan dia terjatuh gue langsung dudukin badan dia gue pukulin muka dia. Mulai ada darah di sisi bibirnya.

“NYAI GUN!!!!” kata dimas berteriak

Tidak lama badan gue seperti di tarik, ya di tarik sama nyai gun gue mental, punggung gue sakit karena hentakan ketanah yang keras, gue liat nyai gun menghampiri gue, dan gue cuman bisa diem karena sakit. Tiba tiba dari samping ada mbah bram yang menghantamkan dirinya ke nyai gun otomatis nyai gun mental ke samping.

“dek wildan tidak apa-apa?” kata mbah bram
“uhuk uhuk, ga apa-apa mbah, gimana sama mbah sendiri?” kata gue
“jangan khawatirkan saya dek, saya disini untuk dek wildan” kata mbah bram
“makasih mbah” kata gue
“sama-sama dek” kata mbah bram.

Tidak lama gue liat nyai gun meluncur ke mbah bram.

“MBAH AWAS” kata gue

Mbah bram baru juga nengok tapi dia sudah di lilit dan di lemparnya mbah bram cukup jauh, nyai gun liat gue yang lagi terkapar, dalem hati gue cuman bisa bilang “MATI GUE”, depan gue ada sesosok ular yang gue ga bisa kalahin pake tangan gue dan itu ga mungkin, tapi tiba-tiba ada suara.

“NYAI ITU PUNYA SAYA” kata dimas

Nyai gun mengangguk dan menuju mbah bram yang di lempar olehnya tadi

“kekuatan macan lu cuman segitu setan?” kata dimas
“hah, pakai aja semua tenaga ular lu, dan lu bakalan tau apa yang akan terjadi” kata gue
“DASAR LEMAH” kata dimas
“semua punya batasan, dan lu masih belum tau batasan ular lu, sedangkan gue udah tau batasan macan gue” kata gue
“SEKARANG LU PUNYA GUE” kata dimas nonjokin gue yang masih terkapar

Kali ini dimas yang ada di atas gue, dan gue di pukulnya bertubi-tubi sama dimas, gue cuman bisa menghalau pukulan dia biar ga semuanya masuk ke muka gue, beberapa kali juga dia pukul perut gue biar gue membuka tangan gue dari muka yang gue lindungin. Setelah beberapa kali pukulan terlihat dimas sudah kehabisan tenaga untuk memukul bertubi-tubi
“dim” kata gue
“apa anjing” kata dimas
“giliran gue” kata gue
“hah?” kata dimas

Gue pukul perutnya yang masih di jangkauan gue dan gue tendang punggungnya pakai dengkul gue yang sudah berdarah, dia kesakitan gue lempar dia kesamping. Gue nendang punggungnya pas di tengah, otomatis tulang tengah yang kena dan dia tergeletak ga bisa bangun, gue berdiri semampu gue dan gue liat mbah bram sedang menggigit salah satu badan nyai gun dimana nyai gun berada di bawah kaki mbah bram tapi nyai gun berusaha sambil mengikat badannya mbah bram. 
“Mbah tahan mbah, saya tau mbah kuat” kata gue dalem hati 
“baik dek” kata mbah
“badan mbah bram banyak luka gitu gapapa mbah” kata gue liat luka di badannya
“saya tidak apa-apa dek” kata mbah bram

Mbah bram luka hampir di semua sisi badannya begitupun dengan nyai gun yang sedang di serang olah mbah bram, gue liat dimas berusaha bangun.

“ga usah bangun setan” kata gue nendang perutnya
“uhukkkk anjing sakit” kata dimas megangin perutnya

Sebenernya niat gue jangan sampe dia bangun lagi biar ga terluka lebih parah, luka di mukanya sudah berdarah, baik bibir, hidung, dan beberapa badannya akibat kena tanah, sedangkan gue? Gatau yang jelas muka gue ganteng, tiara sama nanda udah nangis tapi mereka di pegangin sama uwa dan nyokap gue. 

“Power aja ga cukup wil” kata nyokap senyum

Gue mikir, power aja ga cukup? Gue bingung selain power disini apa lagi, gue ngerasain rasa cape di badan gue dan ngos ngosan tapi ga terlalu parah sedangkan dimas sudah ngos ngosan ga kuat buat bangun, gue liat mbah bram juga sedang mengatur napas sedangkan nyai gun sedang berusaha berdiri, Stamina? Main stamina kayaknya asik gue keinget sama latihan badminton, gue berkali kali menang gara-gara gue buat musuhnya cape duluan baru gue serang kenapa gue ga pake cara itu. 

“mbah bisa bertahan ga?” kata gue
“sepertinya bisa dek, ada apa dek?” kata mbah bram
“mereka sudah terlihat lelah mbah, tahan sebentar, lamain mbah biarkan mereka menyerang” kata gue
“baik dek wildan” kata mbah bram

Mbah bram menyerang nyai gun seperti ingin memprovokasi, biar nyai gun melancarkan sedangan terus, kali ini perut gue kena hantem, oke napas gue ga ke atur perut gue ga siap kena pukul.

“GUE BILANG LIAT MUSUH LU BUKAN LIAT KE YANG LAIN” kata dimas
“tapi mereka juga temen gue dim” kata gue megangin perut
“tapi gue juga disini yang bisa nge bunuh lu kapan aja” kata dimas
“sini bunuh gue kalo bisa” kata gue

Saat gue mau mukul dimas tiba tiba di belakang gue ada mbah bram yang di lempar kencang oleh nyai gun.

“dek saya harus bagaimana?” kata mbah bram terluka
“kenapa mbah?” kata gue
“nyai gun bertambah kuat dek” kata mbah bram

Gue liat Nyai Gun ternyata telah mengeluarkan energi sesungguhnya, ada api hitam di sekeliling tubuhnya, mata merahnya dan tongkatnya yang tadi berwarna emas berubah jadi hitam. Sejenak gue merinding liat nyai gun yang begitu pekat hitamnya dan mata merahnya seperti nafsu membunuh sedangkan Mbah Bram masih bisa berdiri tegak.

“dim liat ular lu” kata gue nunjuk sambil membersihkan darah yang ada di mulut gue
“nyai” kata dimas diam

Gue sama dimas cuman bisa diam melihat nyai gun yang di selimuti oleh api hitam, badannya berdiri tegak, mata merah seperti pembunuh, tapi gue yakin mbah bram bisa bertahan.

“mbah siap?” kata gue
“siap dek...” kata mbah bram
“sekarang mbah, pakai semua energi mbah bram” kata gue
“baik dek wildan” kata mbah bram dan api biru yang menyelimuti badannya yang begitu terang.

Mbah bram jalan begitu tenang ke arah nyai gun, gue ga bisa ngapain ngapain ngeliat mereka berdua, gue takut salah satu dari temen kita mati karena ini. Mbah Bram berhadapan dengan nyai gun yang hanya berada beberapa meter di depannya, setelah nyai gun berubah semuanya yang menonton berdiri dan seperti tidak bisa memalingkan matanya, Tiara sama nanda sudah tidak ada di tempat sepertinya lari ke dalem rumah entah karena ketakutan atau apalah gue gatau. 

“dek, kasih tau dek dimas, maaf jika saya harus menghabisi nyai gun” kata mbah bram yang siap menerkam 

google+

linkedin

About Author
  • Berawal Dari Coba coba, Hingga menjadi hobi yang menyenangkan. Dan kini tetep akan berkarya mulai dari sekarang, kini dan nanti hingga keadaan yang mengakhiri. Read More

    2 comments:

     

    Google+ Followers