Penglihatan Lebih ( Part 71 ) Cabut Sekolah | Cerita Campur
Breaking News
Loading...

Penglihatan Lebih ( Part 71 ) Cabut Sekolah

Cerita Campur - Cabut Sekolah

Sesampainya di rumah dimas kita semua di tegur sama nyokapnya dimas karena heran kalau kita cabut sekolah. Lagian kan namanya anak sekolah pasti cabut pernah dong toh kita cabut juga ketawan ortu pasti. 




"lah kok pada pulang?" kata nyokapnya dimas
"emmmm ini mah gini ceritanya" kata dimas
"hayoloh dimasssss" kata gue
"yang ajak tuh elo ya" kata dimas
"coba jelasin sama mama mas" kata nyokapnya
"ya jadi gini mah, td sekolah terus tau tau kita bosen jd pengen cabut sesekali mah, boleh ya?" kata dimas
"ampun deh bener" kata mamanya dimas
"ya mah ya please" kata dimas
"yaudah mau di apain lagi" kata nyokapnya
"sama satu lagi tante, nanti kita semua organisasi bulutangkis mau makrab di puncak, td kita di minta ikut" kata gue
"oh kapan itu?" kata nyokapnya
"belum tau tante nanti rapatin lagi kok tante" kata gue
"yaudah selama ada kamu tante percaya wil" kata nyokapnya
"makasih tante" kata gue
"mama ga percaya sama dimas?" kata dimas
"engga kamu sering bohong" kata mamanya
"ketawan sering bohong yaaaaa" kata nanda
"eh engga beneran bohong yang mana coba mah?" kata dimas
"pokoknya adalah, yaudah ini kalian mau kemana sekarang?" kata nyokapnya
"paling ke luar main tante" kata martin
"yaudah ati ati ya" kata nyokapnya
"iya tante itu pasti kok" kata gue

setelah minta izin ke nyokapnya dimas kita semua naik ke kamarnya dan bersantai santai sebentar sekalian memutuskan mau kemana.

"Pinjem baju dim sama celana" kata martin
"gila barang gue disita nih" kata dimas
"gpplah kali kali kan" kata martin
"udh bilang bokap lu?" kata gue 
"udah kok dan kata bokap boleh" kata martin
"nah ada ya kita cabut bilang ortu" kata dimas
"itulah bedanya kita, kita cabut sekolah seizin ortu jadi kalau sewaktu waktu ada masalah ya ortu tau dan mereka pasti belain kita" kata gue
"bener tuh aku juga udh bilang kok ke nyokap" kata tiara
"aku juga udah" kata nanda
"hebat" kata martin
"dim gue pinjem jaket lu yang ini" kata gue ngambil jaket dia di lemari
"anjing main buka lemari gue aja" kata dimas
"gue masih mending jaket nah lu tau tau celana dalem gue kurang sama siapa kalau bukan lu coba" kata gue
"iya dah iya serah loe" kata dimas
"kita kemana hari ini?" kata tiara
"gatau" kata gue
"ke banten gimana? kita kasih kejutan ke icha" kata martin
"yakinnn?" kata gue
"yakin kenapa engga?" kata martin
"siap ya?" kata gue
"siapppp banten doang" kata martin
"yaudah deh terserah lu" kata gue
"kita disana nginep apa tek tok?" kata nanda
"nginep aja jangan cari penyakit rumah gue yang disana masih ada deket pantai kok" kata martin
"cakepp" kata dimas
"bawa kuncinya emang?" kata nanda 
"emmmm bentar" kata martin cek tas
"bawa kok dia di tas dalem selipannya" kata gue
"hah kok tau?" kata martin
"coba aja cek" kata gue
"beneran ada loh" kata martin ngasih unjuk kunci
"yank kamu ngeri ih belakangan ini jadi makin parah" kata tiara
"mau gimana lagi, yaudah yu siap siap" kata gue
"oke deh komandan" kata martin 

Setelah kita semua siap dengan semua kesiapan seadanya, gua bawa baju yang gue pinjem dari dimas soalnya rencana awal adalah mau nginep di rumahnya martin yang di banten. Selama manempuh perjalanan kita semua jalan santai ga ada yang terlalu ngebut sekitar 60-80kmh udh cukuplah buat saat ini apa lagi gue di motor sambil ngobrol sama tiara kan.

“pegel gaaaa?” kata gue sambil nyetir motor 
“kenapa emangnya?” kata tiara agak keras ngomongnya
“gpp kalau pegel kita berenti dulu aja kita istirahat” kata gue
“gpp lanjut aja dulu lagian juga aku kan pelukan sama kamu” kata tiara
“bener nih?” kata gue
“beneran sayang” kata tiara
“yaudah kalo pegel bilang ya” kata gue
“iya sayang kalo pegel aku pasti bilang kok” kata tiara
“gini deh gajauh dari sini bentar lagi ada tempat makanan lesehan kita istirahat disitu aja ya?” kata gue
“iya sayang ikut kamu ajalah” kata tiara kepalanya di pundak gue dan tangannya meluk perut gue 
“oke deh sayang, bentar lagi kok” kata gue
"iya sayang aku ikut aja" kata tiara

Gue susul martin yang ada di depan gue buat ngasih tau kita berenti dulu dan gue yang pimpin jalan sebentar. Tidak lama kita semua menemukan salah satu tempat makanan sunda dimana tempatnya lesehan, kita pesan makanan secukupnya dan jika terlalu kenyang yang ada ngantuk berat soalnya kita nyetir motor. Setelah makan secukupnya gue nyuruh para cewe tidur duluan biar bisa gantian sebentar. 

"dah gih yang cewe cewe pada tidur" kata gue
"ini serius?" kata tiara
"serius nanti gantian, gih kasian pegel" kata gue
"dah nurut aja sama wildan ra, dia ga bakal sesat perjalanan masih jauh kalo dia bilang gitu" kata nanda
"dah pada tidur napa berisik bener, nih yank sini tiduran di tas kan empuk nih" kata gue 
"okeeee pinjem jaket" kata tiara 
"iyaaa iyaaa nih buat nutupin kakimu" kata gue


Setelah para wanita tidur gue bersama 2 cowo ini ngobrol bareng apa yang kita omongin? apapun itu yang bisa buat kita nyaman aja, setelah beberapa obrolan gue yakinin martin buat nerusin jalan atau engga.

"tin serius nih mau ke icha?" kata gue
"yakinlah kan jarang gue ngasih kejutan ke dia" kata martin 
"gak gue mau nanya aja, lu bisa tahan emosi kan?" kata gue
"tahan emosi? hemmm bisalah emosi doang" kata martin 
"yakin ya?" kata gue
"yakin bosssas" kata martin
"wildan kalau bilang gitu pasti ada sesuatu penasaran gue" kata dimas
"emang ada apa sih?" kata martin
"gatau deh liat aja nanti ya" kata gue
"kasih tau gue sih" kata martin
"terkadang ada beberapa masa depan yang ga boleh di rubah bro jadi lu harus liat sendiri" kata gue
"gue kali ini setuju sama wildan" kata dimas
"kaya tiara deh gue ga ubah masa depan gue hanya memberikan jalan buat dia menghadapinya itu doang kan" kata gue
"iya juga sih okelah wil gue percaya sama lu" kata martin

Saatnya gue bangunin tiara dengan cara gue ciumin bibirnya dan benar saja tidak lama kemudian dia bangun dengan senyumannya dan memeluk gue, sekarang saatnya gantian cowo-cowo yang tidur kali ini gue di perbolehkan tidur di pahanya tiara yang cukup empuk. 

Beberapa lama gue tidur akhirnya gue di bangunin sama tiara cuman kali ini lebih tega. Hidung sama mulut gue di tutup, emang tega tiara tuh kalau bangunin gue ga ada rasa kasihan. Setelah nyawa ngumpul semua, kita lanjutkan jalan menuju dimana icha berada dan perjalanan masih jauh, Moga-moga aja martin bisa sabar dengan apa yang dia liat nanti, karena apa yang gue liat itu malah kebalikannya marttin emosi dengan hal itu.

“gila ini perjalanan berapa jauh lagi?” kata dimas
“yank kamu ngeluh mulu ih malu maluin banget sih” kata nanda
“ya ini jauh banget masalahnya yank” kata dimas
“baru setengahnya mas” kata martin
“setengahnyaaaa? Pelabuhan ratu udah lewat loh nyet” kata dimas
“iya baru setengahnya ini” kata gue santai
“edan sumpah pengen bunuh diri gue” kata dimas
“gih gih, eh nanti ada pom kita isi bensin dulu ya” kata gue
“cakepppppp, sekalian istirahat lagi” kata dimas
“kapan nyampenyaaaaaa” kata martin
“tau nih dimas manja bener dah jadi cowo” kata nanda
“bukannya belain kek yank” kata dimas
“aku boncengan sama martin nih” kata nanda
“ehhhh iya iya iya ampun, ah elah” kata dimas
“yank mana kunci motor kamu?” kata tiara
“nih.... buat apaan?” kata gue
“mau bawa” tiara ngambil kunci gue
“bawa motor wildan lo ra? Yakin?” kata dimas
“kenapa engga?” kata tiara
“itu serius wil?” kata dimas
“biarin ajalah paling jatuh simpel kan buat gue” kata gue pakai sarung tangan
“pasangan aneh emang cape gue ngehe mikirin lu berdua” kata dimas
“mikirin kitanya kapan?” kata nanda
“UDAHHHHHH” kata dimas

Kali ini gue di bonceng tiara, walau jalannya ga cepet sih maklum dia masih belajar juga tapi gue biarin aja, gue mau dimana kuda besi ini motor pertama buat dia belajar motor, kopling lagi kan. Selama beberapa perjalanan ternyata tiara pegel dan tukeran lagi sama gue biar cepet juga jalannya.

Sesuai janji kita semua mengisi bensin di pom bensin selanjutnya dan setelah mengisi gue melihat ada sosok kakek kakek yang melihat ke arah kita pas kita lagi siap-siap jalan lagi. Kakek kakek itu hanya tersenyum ke arah kita danhilang begitu saja seperti angin. Selama perjalanan beberapa pengelihatan terlihat di mata gue dan gue masih belum bisa kontrol itu karena tiap gue meleng dikit atau ngelamun pengelihatan itupun terjadi di mata gue dengan sekilas.

google+

linkedin

About Author
  • Berawal Dari Coba coba, Hingga menjadi hobi yang menyenangkan. Dan kini tetep akan berkarya mulai dari sekarang, kini dan nanti hingga keadaan yang mengakhiri. Read More

    0 komentar:

    POST A COMMENT

     

    Google+ Followers